Nama : Muhammad Iqbal Gozali NPM : 57414347 Ilmu Budaya Dasar
Manusia Dan Penderitaan
I.
Pengertian Penderitaan, Siksaan, Rasa
Sakit, Sumber-Sumber Penderitaan
Ø Pengertian
Penderitaan
Penderitaan adalah menanggung atau menjalani sesuatu yang sangat tidak menyenangkan yang dapat di rasakan oleh manusia. Setiap manusia pasti pernah mengalami penderitaan baik secara fisik maupun batin. Penderitaan juga termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat tidaknya suatu intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang di anggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan suatu penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagian. Memang harus diakui, di antara kita dan dalam masyarakat masih terdapat banyak orang yang sungguh-sungguh berkehendak baik, yaitu manusia yang merasa prihatin atas aneka tindakan kejam yang ditujukan kepada sesama manusia yang tidak saja prihatin, melainkan berperan serta mengurangi penderitaan sesamanya, bahkan juga berusaha untuk mencegah penderitaan atau paling tidak menguranginya, serta manusia yang berusaha keras tanpa pamrih untuk melindungi, memelihara dan mengembangkan lingkungan alam ciptaan secara berkelanjutan. Ada keinginan alamiah manusia untuk menghindari penderitaan. Tetapi justru penderitaan itu merupakan bagian yang terkandung di dalam kemanusiaannya.
Penderitaan adalah menanggung atau menjalani sesuatu yang sangat tidak menyenangkan yang dapat di rasakan oleh manusia. Setiap manusia pasti pernah mengalami penderitaan baik secara fisik maupun batin. Penderitaan juga termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat tidaknya suatu intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang di anggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan suatu penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagian. Memang harus diakui, di antara kita dan dalam masyarakat masih terdapat banyak orang yang sungguh-sungguh berkehendak baik, yaitu manusia yang merasa prihatin atas aneka tindakan kejam yang ditujukan kepada sesama manusia yang tidak saja prihatin, melainkan berperan serta mengurangi penderitaan sesamanya, bahkan juga berusaha untuk mencegah penderitaan atau paling tidak menguranginya, serta manusia yang berusaha keras tanpa pamrih untuk melindungi, memelihara dan mengembangkan lingkungan alam ciptaan secara berkelanjutan. Ada keinginan alamiah manusia untuk menghindari penderitaan. Tetapi justru penderitaan itu merupakan bagian yang terkandung di dalam kemanusiaannya.
Ø Pengertian Siksaan
Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture) digunakan untuk
merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban.
Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik secara fisik maupun
psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap seseorang dengan tujuan
intimidasi, balas dendam, hukuman, sadisme, pemaksaan informasi, atau
mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat disebut
sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara interogasi untuk
mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai metode pemaksaan
atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap sebagai ancaman
bagi suatu pemerintah. Sepanjang sejarah, siksaan telah juga digunakan sebagai
cara untuk memaksakanpindah agama atau cuci otak politik.
Ø Rasa Sakit
Rasa sakit adalah rasa yang dirasakan atau dialami oleh penderita dan
setiap manusia akan selalu mengalaminya. Rasa sakit dan siksaan merupakan
rentetan sebab akibatnya. Karena ada siksaan orang merasa sakit, dan karena
merasa sakit orang menderita. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari rasa
sakit, misalnya timbul rasa kasihan terhadap penderita, adanya rasa
keprihatinan manusia, rasa social, dapat mendekatkan diri penderita kepada
Tuhan, dll.
Ø Sumber Penderitaan
Bila kita kelompokkan secara sederhana berdasarkan sumber penderitaan,
maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut:
1.Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan ini dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan
manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan ini kadang disebut nasib buruk.
Nasib buruk dapat diperbaiki dan manusialah yang dapat memperbaiki nasibnya.
2.Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan/azab Tuhan
Dalam mengatasi penderitaan ini manusia dapat berusaha dengan kesabaran,
tawakal, dan optimisme.
3.Terhadap orang lain
Perbuatan buruk manusia dapat menimbulkan derita bagi orang lain yang
sangat mengganggu phyisik dan phisikologi orang yang menderita.
4.Terhadap alam lingkungan
Perbuatan buruk manusia terhadap alam lingkungan juga menjadi penyebab
penderitaan bagi manusia lainnya, tetapi sayang manusia tidak mau menyadari
perbuatannya itu.
II.
Cara untuk menghindari dari penderitaan
Salah
satu upaya untuk menghindari penderitaan adalah dengan mendekatkan diri pada
Tuhan, sabar dan tawakal menghadapi segala cobaan yang menimbulkan penderitaan
dalam diri kita.
Usaha-usaha positif di dalam
menghindari timbulnya penderitaan adalah cara memperbaiki atau mempertahankan
hubungan baik kita, baik hubungan manusia dengan diri kita, dengan sesama,
dengan Tuhan, maupun dengan alam sekitar kita. Dengan memperbaiki hubungan kita
seperti penjelasan diatas tentu penderitaan setidaknya akan jarang hadir atau
bahkan tidak akan hadir menghampiri kita.
Memperbaiki hubungan dengan diri
sendiri dengan cara melakukan segala aktivitas yang positif dan baik, lebih
peduli terhadap kesehatan tubuh, kebersihan, dan menjaga pola makan agar
tarhindar dari segala penyakit. Memenuhi kebutuhan sosia, jasmanil dan rohani
agar jiwa sehat dan jauh dari kekalutan dan ketakutan yang menyebabkan
timbulnya penderitaan.
Sumber :
http://ulfamvn.blogspot.com/2012/12/6-manusia-dan-penderitaan.html
http://arizalferdiansyah.blogspot.com/2011/05/pengertian-siksaan.html
massofa.wordpress.com
http://mellygundar.blogspot.com/2012/01/manusia-dan-penderitaan.html
Resensi novel berkaitan manusia dan penderitaan
Penulis : Paulus Budi Kleden
Penerbit : Ledalero, Cetakan ke-2, 2006.
140 x 210 mm, xiv + 349 hlm.
Penterjemah : Drs. Yosef Maria Florisan
“Romo, apakah dunia kita akan kiamat dalam waktu dekat?” Demikian bunyi salah satu SMS yang masuk ke ponsel saya tatkala terjadi peristiwa gempa bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006. Selama beberapa hari berikutnya, banyak SMS yang masuk dengan nada yang sama apakah Tuhan sudah murka dengan kita umat-Nya di Indonesia ini? Bencikah Tuhan kepada kita? Apakah peristiwa tsunami dan gempa bumi yang kita alami datang karena hukuman Tuhan?
Ternyata peristiwa yang demikian itu mengantar orang kepada permenungan dan refleksi tentang keberadaannya di hadapan Allah.
Pencaharian dan refleksi seseorang di balik sebuah penderitaan adalah sebuah pola beriman yang sah dan benar. Orang bertanya untuk melihat jalan Tuhan pada manusia, khususnya dalam situasi penderitaan, kaos, dan kejahatan. Pertanyaan itulah yang disebut sebagai teodice, sebuah jalan refleksi filosofis dan teologis yang ingin memperlihatkan bagaimana campur tangan Allah dalam keadaan manusia yang paling gelap itu, bahkan dalam kematian sebagai sebuah puncak dari situasi penderitaan manusia itu.
Dalam refleksinya, teodice akan memperlihatkan kepada manusia bahwa cinta Allah tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Allah setia dan sangat mencintai umat manusia. Penderitaan dalam refleksi teodice dapat dilihat sebagai cobaan, kemarahan Allah, masa krisis dan sebagainya, namun tidak selalu berarti bahwa Allah meninggalkan umat-Nya. Allah tidak pernah murka akan umat-Nya. Ia tidak pernah membenci umat-Nya. Ia selalu mencintai umat-Nya bahkan dalam situasi macam itu pun Ia turut menderita bersama umat-Nya.
Dalam garis refleksi seperti itu, Dr. Paul Budi Kleden seorang teolog yang juga kritikus sastra dari Ledalero, Flores, ingin menghadirkan sebuah refleksi teodice yang lengkap tentang penderitaan. Ia merasa prihatin akan reaksi para pemimpin agama dan negara ini yang terlalu ‘enteng’ untuk memberi nasihat kepada umat mereka tentang penderitaan itu.
Bagi Budi Kleden, nasihat yang saleh-saleh dan terlalu enteng akan membawa orang pada sikap pasrah kepada suatu kepercayaan yang bersifat mitos, yang selanjutnya membawa orang kepada kebuntuan dan kekosongan iman. Itulah alasannya mengapa Budi Kleden menulis bukunya, Membongkar Derita, Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi. Buku ini patut diacungi jempol karena buku ini adalah buku pertama yang berisikan sebuah refleksi filsafat dan teologi yang lengkap tentang penderitaan manusia dalam bahasa Indonesia.
Judul yang menantang, Membongkar Derita sengaja dibuat Budi Kleden untuk menggugat kita agar kita sampai pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial kita sebagai manusia, termasuk bertanya tentang kehadiran Allah di dalam penderitaan, Engkau di mana Allahku? Penderitaan mesti dibongkar karena ia merusakkan unum (kesatuan), verum(kebenaran) dan pulchrum (keindahan). Penderitaan sebagai situasi malum (buruk) bertolak belakang dengan kesatuan, kebenaran, dan keindahan (halaman 17-18).
Ia dialami sebagai suatu rasa sakit yang merugikan karena ia membuat manusia berada dalam suatu tekanan tertentu sehingga manusia tidak bisa memenuhi keinginan dan cita-cita hidupnya. Membongkar, dalam pengertian Budi Kleden, berarti orang harus mencari tahu asal-usul penderitaan itu, mengapa penderitaan itu bisa terjadi, di manakah Tuhan ketika itu, dan sejumlah pertanyaan lain lagi. Jawaban akan pertanyaan itu akan menolong untuk mengerti tentang penderitaan dan tahu bagaimana harus bereaksi terhadapnya.
Langkah itu harus ditempuh agar orang tidak trauma dengan peristiwa penderitaan, mempunyai hermeneutic (penafsiran) yang benar tentang penderitaan (apakah penderitaan itu berasal dari Allah sebagai hukuman atau kejadian alam biasa atau berasal dari perbuatan manusia sendiri), dan akhirnya orang tahu bagaimana ia dapat keluar dari penderitaannya.
Kenyataan penderitaan dapat ditutupi dan dimanipulasi orang tertentu dengan membuat laporan ‘asal bapak senang’ seperti penderitaan dianggap sebagai cobaan belaka, kita harus pasrah, kerusakan ini tidak berarti apa-apa hanya media yang membesar-besarkan, bantuan ‘ditilap’. Budi Kleden menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan terhadap realitas penderitaan karena akan membuat orang sadar akan dirinya yang sebenarnya dan penderitaan yang sedang dialaminya. Karena itu, penutupan dan manipulasi adalah kejahatan kemanusiaan yang membuat orang lebih menderita.
Buku Budi Kleden ini memang membatasi pembahasannya tentang teodice pada refleksi Kristiani, namun buku ini memberi paham mengenai penderitaan dan kehadiran Allah yang dibahas secara interdisipliner dan luas, yang dapat berlaku pula untuk pemeluk-pemeluk agama yang lain. Secara khusus, Budi Kleden mendialogkan penderitaan itu dengan filsafat dan teologi dalam kerangka pemikiran tokoh-tokoh besar dalam kedua bidang itu, seperti Agustinus, Leibniz, Hegel, de Chardin, Voltaire, Dostoyevsky, Eckhart, Schopenhauer, Buchner, Camus, Jonas, Blumenthal, Borchert, Jüngel, dan Moltmann. Dengan kupasan yang interdispliner dan luas itu, Budi Kleden membantu kita untuk memiliki gambaran yang luas dan mendalam tentang model-model pendekatan filosofis dan teologis terhadap penderitaan.
Sebagai seorang teolog dengan penguasaan sastra yang luas dan mendalam, Budi Kleden lewat bukunya ini ingin mencari kejelasan iman, kejelasan campur tangan di dalam kehidupan manusia dan kejelasan keadilan Allah dalam situasi manusia macam itu. Kemampuan penguasaan sastra yang luas dan mendalam itu sehingga telaah filsafat dan teologi yang berat terasa mengalir disertai contoh yang membantu pembaca untuk memahami persoalan teodice itu.
Di sisi lain, Budi Kleden juga ingin menunjukkan suatu relevansi antara kejahatan dalam berbagai bentuknya dan akibat yang ditimbulkan kejahatan manusia itu. “Siapa menabur angin akan menuai badai.” Dasar utama pemikiran itu adalah bahwa manusia mempunyai kebebasan yang memungkinkan ia untuk bertindak sesuai dengan kehendaknya. Manusia harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri kelak dalam pengadilan Tuhan. Namun, teodice ini juga menunjukkan bahwa seseorang tidak perlu bertanggung jawab atas setiap tindakan yang berada di bawah tekanan tertentu. Setiap tindakan yang dipaksakan membuat orang berada dalam tekanan dan tidak mempunyai kehendak yang bebas.
Allah, di manakah Engkau? Pertanyaan itu adalah pertanyaan harian manusia yang selalu ingin mencari dan mencari wajah Allah. Ketika bencana alam secara beruntun menimpa bumi Indonesia dan menelan korban yang begitu banyak, pertanyaan itu bisa berubah, “Marahkah Engkau, ya Allah?” Buku Budi Kleden ini akan membuka cakrawala berpikir kita mengenai kehadiran Allah di dalam penderitaan manusia.
Sumber:
http://www.penerbitledalero.com/05.%20Resensi/05.%20Resensi_05.%20Membongkar%20Derita02.html
Komentar
Posting Komentar